#navbar-iframe { height: 0px; visibility: show; display: on; }
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2010

Al-Qur'an Tidak ada Sesuatu Seperti Dia

Oleh: Asy-Syahid Hasan Al-Banna


Ass sahabat blogger muslim.. dibawah ini ada artikel menarik dan sangat bagus untuk dibaca, direnungi dan dihayati, menambah wawasan tentang makna Al-Qur’an yang menjadi petunjuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Artikel ini saya ambil dari www.dakwatuna.com

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Kita memulai dengan cara yang paling baik. Maka saya ucapkan,
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Amma ba’du.

Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada satu organ, jika ia baik, maka seluruh badan menjadi baik, tetapi jika ia rusak, maka seluruh badan juga rusak. Itulah hati. Kedudukan hati ini, Ikhwan sekalian, ibarat kedudukan penunjuk jalan menuju jalan kebenaran, kepada orang yang tersesat di persimpangan jalan.Jika hati seseorang baik, maka hati umat menjadi baik, dan umat tersebut bisa membangun sarana untuk membimbing dunia kepada keselamatan dan cahaya. Allah swt. telah menangani perbaikan hati dengan petunjuk-Nya dan dengan meliputkan perhatian-Nya. Allah juga menjadikan keteraturan dan kebahagiaan di dunia tergantung kepada berubahnya hati dari kebodohan kepada ilmu dan dari kejahatan kepada kebaikan. Bangsa Arab merupakan contoh terbaik mengenai perwujudan kaidah ini.

Petunjuk Allah yang datang melalui lisan Muhammad saw. dan perhatian-Nya yang berujud kitab Al-Qur’anul Karim, telah mendidik hati orang-orang bodoh itu sehingga menjadi manusia yang paling berilmu; merasuki had orang-orang yang tak beralas kaki dan tak berbusana itu sehingga menjadi orang-orang yang menyebarkan kebaikan dan kasih sayang serta delegasi-delegasi keadilan dan toleransi. Had mereka yang gelap, bercahaya dengan cahaya aqidah, lantas mereka berpencar ibarat sinar-sinar cemerlang yang menerangi penjuru dunia.

Demikianlah, wahai Akhi, daulah dan masyarakat Islam ideal yang penuh dengan kebaikan dan keadilan itu terbangun dan terwujud. Kita tidak akan mungkin kembali kepada kebaikan semacam ini kecuali bila kembali mengindahkan ajaran kitab kita dan perintah-perintahnya, kemudian melaksanakan segala ajaran yang dikandungnya dalam seluruh aspek kehidupan kita. Alhamdulillah, ini berjalan meningkat. Kehidupan terus berkembang. Pemikiran juga terus berkembang. Apa pun teori yang telah dikemukakan oleh para ilmuwan, apa pun rahasia yang telah disingkapkan oleh para penelid, kita mendapad bahwa hal itu tidak bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan kaidah-kaidahnya. Bahkan, kadang-kadang kita menemukan nash yang bersesuaian dengannya atau ayat yang berkaitan dengan penemuan itu.

Ikhwan semua…
Titik perubahan dalam diri pribadi, jamaah, dan umat adalah pengetahuan tentang Allah swt. Para Nabi adalah penyeru-penyeru yang mengajak kepada pengetahuan ini dan yang aktif berjuang menganjurkan manusia kepada kebaikan dan menunjuki mereka ke jalan yang benar.
Karena Islam adalah agama fitrah,

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Ar-Rum: 30)

Maka ia menyuguhkan kebaikan dan kebenaran kepada umat manusia berwujudkan perhiasan dunia yang tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam dan fitrah yang sehat.
Ikhwan sekalian…
Zuhud adalah sikap yang baik, kehidupan bersahaja adalah sikap yang baik, berdiam melaksanakan ibadah dengan tekun adalah baik, akan tetapi manusia mempunyai nafsu dan ia tercipta dengan karakter mempunyai minat. Bisakah ia menjadikan kehidupannya kering dengan kezuhudan yang sempurna? Bisakah ia membersihkan dirinya dari kecintaan kepada dunia lantas mengorbankan apa saja?
Bisakah ia senantiasa berdiam dan melaksanakan ibadah dengan mematikan nafsunya?
Allah swt. telah mengetahui bahwa itu merupakan hal yang mustahil diwujudkan oleh manusia yang lemah. Maka Allah menjadikan agama yang lurus ini berjalan sesuai dengan fitrah sehat dan mengakui perhiasan kehidupan dunia yang sesuai dengan syariah.

“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (Al-A’raf: 32)

Manusia harus berinfak dan mengeluarkan zakat, tetapi dengan ukuran tertentu. Barangsiapa yang berzakat dan berinfak lebih dari kadar yang diharuskan, maka berarti kadar keimanan yang dimilikinya lebih besar. Dan barangsiapa yang tidak demikian, ia tidak melanggar batas dan tidak termasuk orang yang berdosa. Ia berkewajiban melaksanakan ibadah yang tidak memberatkan dirinya.

“Barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya.” (Al-Baqarah: 184)

dan barangsiapa tidak berbuat demikian, tidaklah berdosa.
Wahai Akhi…
Demikianlah ajaran-ajaran agama kita yang lurus ini berjalan selaras dengan hukum alam dan tabiat manusia. Karena itu, Islam layak menjadi risalah terbaik, dan para pemeluknya layak menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
Amma ba’du.
Ikhwan sekalian…
Kita akan kembali kepada pembicaraan tentang kitab Allah swt. dan berbagai hukum yang terkandung di dalamnya, serta mukjizat dan penjelasan yang terangkai dalam kalimat-alimatnya.
Ikhwan sekalian…
Kita telah sampai pada penafsiran ayat-ayat berikut:

“Sesungguhnya Allah tiada malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, ‘Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?’. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang yang merugi.” (Al-Baqarah: 26-27)

Ikhwan semua…
Al-Qur’anul Karim senantiasa memberikan kejelasan, berbicara kepada hati, menggerakkan perasaan, dan mendekatkan kepada penalaran. Karena itu, ia kaya dengan perumpamaan-perumpamaan sebagai petunjuk yang bisa diraba dan di indra, baik tentang keesaan, keagungan, maupun kehebatan karya Allah swt. dan yang menunjukkan bahwa barangsiapa kafir, berarti ia telah menyulitkan diri sendiri, tersesat, membangkang, dan menzhalimi haknya sendiri maupun hak manusia. Orang-orang kafir pernah berusaha untuk memperolok perumpamaan-Perumpamaan ini: kadang-kadang perumpamaan dengan laba-laba, lalat, dan perumpamaan-perumpamaan lainnya.

Maka datanglah jawabannya di dalam ayat-ayat ini. Perumpamaan-perumpamaan ini semakin menambah keimanan orang-orang mukmin, tetapi orang-orang yang keras kepala dan sombong tidak bisa mengambil manfaat darinya kecuali untuk menambah kebutaan dan kesesatan mereka. Perumpamaan itu bisa dilihat dari satu sudut pandang, yaitu penjelasan atau pendekatan makna kepada siapa yang hendak memahami dan ingin sampai kepada hakikat, kebaikan, kehidupan, dan Allah.

Apakah perumpamaan cahaya Allah swt. dengan pelita yang terang dimaksudkan untuk menyerupakan sesuatu yang serupa dengan sesuatu yang diserupai? Mahasuci Allah dari itu. Itu tidak lebih sebagai penjelasan pemikiran dan pendekatan kepada penalaran. Allah swt. membuat perumpamaan-perumpamaan tersebut dalam Al-Qur’an untuk tujuan-tujuan ini.

‘Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (Al-Hasyr: 21)
Ikhwan sekalian…
Allah swt. telah membagi manusia menjadi dua kelompok berkaitan dengan sikap mereka terhadap perumpamaan yang dibuat oleh Al-Qur’an. Satu kelompok adalah orang-orang beriman yang keimanan mereka kepada ayat Al-Qur’an dan pengetahuan mereka tentang setiap perumpamaan yang ada di dalamnya semakin bertambah.

“Katakan, ‘Al Qur’an itu adalah petun-juk dan penawar bagi orangorang
yang beriman.’” (Fushilat: 44)

Satu kelompok lagi adalah orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang dengan adanya penjelasan itu justru menjadikan mereka semakin bodoh dan perumpamaan itu justru membuat mereka semakin mengolok-olok dan membangkang.

“Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian.” (Al-Isra’: 82)
“Dan tidak ada yang disesatkan Allah, kecuali orang-orang yang fasik.”
Allah swt. telah menyifati mereka sebagai orang fasik, kemudian berfirman mengenai mereka.

“(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh.”

Para mufasir mengemukakan banyak pendapat mengenai penafsiran dari “perjanjian Allah” di sini. Di antara mereka ada yang mengatakan “agama”, berdasarkan firman Allah,

“Bukankah Aku telah wasiatkan kepada kalian, hai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Yasin: 60)

Mufasir lain ada yang mengatakan, “Yang dimaksudkan adalah pengakuan tentang kenabian Muhammad saw,” karena hal itu tercantum dalam kitab-kitab mereka. Oleh sebab itu, ia menjadi suatu perjanjian yang mereka langgar akibat mengingkari kerasulan beliau saw., menutup-nutupi kandungan kitab mereka, dan menafsirkannya dengan penafsiran yang tidak benar, hanya mengikuti hawa nafsu dan tujuan-tujuan mereka.
“Dan mereka memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya.” (Al-Baqarah: 27)
Maksudnya adalah syariat-syariat yang menghubungkan antara Allah dan hamba-hamba-Nya. Tindakan mereka memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya ini, mengakibatkan mereka menyimpang dari jalan lurus.
Dengan nada heran dan menggunakan gaya pertanyaan retoris, Allah berfirman,

“Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian?” (Al-Baqarah: 28)

Maksudnya, bagaimana manusia bisa kafir kepada Allah dan tidak ingat akan nikmat-nikmat-Nya, padahal dahulu ia tidak berujud sesuatu?

“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?” (Maryam: 67)

Beranikah manusia mengatakan,
“Sesungguhnya kami diciptakan secara kebetulan?” Artinya, kebetulanlah yang telah menyatukan sepasang suami-istri, menghidupkan kembali tulang-tulang yang telah remuk, dan menciptakan seorang manusia berakal yang sem-purna dari bahan baku tanah? Apakah manusia itu dilahirkan oleh alam?
Wahai Akhi…
Mereka itu dalam banyak situasi lupa akan kesalahan dan menghadap kepada Allah swt., sedangkan mereka tidak merasa. Cukuplah apabila manusia mau memperhatikan kandungan surat Ad-Dahr. Surat tersebut mengandung rahasia-rahasia alam dan menjelaskan kunci-kunci kehidupan manusia secara keseluruhan dalam kata “Kami mengujinya”.
Hendaklah manusia mau memperhatikan surat ini, agar ia mengetahui kekuasaan dan keagungan Allah swt., keindahan karya-Nya, dan besarnya nikmat yang diberikan-Nya kepada manusia. Sebagian mufasir mengatakan, kata “matsalan (perumpamaan)” di ayat ini berarti: “teladan dan contoh” seperti dalam firman Allah swt.,

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan (teladan, contoh —pen.)” (Ay-Zukhruf: 57)
Namun, konteks kalimat di sini tidak sesuai jika diartikan demikian. Sebagian dari mereka mengatakan, “Bagaimana sifat malu bisa dipredikatkan kepada Allah?” Pertanyaan ini bisa dijawab,

“Bahwa semua sifat yang dipredikatkan kepada Allah swt. tidaklah serupa dengan sifat-sifat manusia, melainkan sekedar pendekatan kepada penalaran manusia tanpa penyerupaan dan tajsim.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (Asy-Sjura: 11)

Apa pun yang pernah terdetik di hatimu, wahai Akhi, maka Allah berbeda darinya. Ketidakmampuan mengetahui itulah pengetahuan.

“Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang sebesar-besarnya.” (Al-Israa’: 43)

Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan segenap keluarga serta sahabatnya.

semoga bermanfaat untuk kita semua amiin..
Ya Allah Tunjukilah kami pada Jalan yang lurus..Jalan yang benar..jalan yang Engkau telah beri Nimat atas mereka, bukan jalan-jalan orang-orang yang sesat dan yang Engkau murkai

Read more...

Senin, 14 Desember 2009

Rukun Islam

Rukun Islam terdiri daripada lima perkara:

  1. Mengucap dua kalimat syahadat dan menerima bahwa Allah itu tunggal dan Nabi Muhammad s.a.w itu rasul Allah.
  2. Menunaikan sholat lima kali sehari.
  3. Mengeluarkan zakat.
  4. Berpuasa pada bulan Ramadhan.
  5. Menunaikan Haji bagi mereka yang mampu

Read more...

ZAKAT

Etimologi

Secara harfiah zakat berarti "tumbuh", "berkembang", "menyucikan", atau "membersihkan". Sedangkan secara terminologi syari'ah, zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan.

[sunting] Hukum Zakat

Zakat merupakan salah satu[rukun Islam], dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya [syariat Islam]. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah, seperti:shalat,haji,dan puasa yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah,sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

[sunting] Macam-Macam Zakat

Zakat terbagi atas dua tipe yakni:

  • Zakat Fitrah
    Zakat yang wajib dikeluarkan muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
  • Zakat Maal (Harta)
    Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi). Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.

[sunting] Yang berhak menerima

  • Fakir - Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  • Miskin - Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
  • Amil - Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
  • Muallaf - Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
  • Hamba Sahaya yang ingin memerdekakan dirinya
  • Gharimin - Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
  • Fisabilillah - Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
  • Ibnus Sabil - Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.

[sunting] Yang tidak berhak menerima zakat[1]

  • Orang kaya. Rasulullah bersabda, "Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga." (HR Bukhari).
  • Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
  • Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
  • Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
  • Orang kafir.

[sunting] Beberapa Faedah Zakat[2]

[sunting] Faedah Diniyah (segi agama)

  1. Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari Rukun Islam yang mengantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
  2. Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabb-nya, akan menambah keimanan karena keberadaannya yang memuat beberapa macam ketaatan.
  3. Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, sebagaimana firman Allah, yang artinya: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah" (QS: Al Baqarah: 276). Dalam sebuah hadits yang muttafaq "alaih Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam" juga menjelaskan bahwa sedekah dari harta yang baik akan ditumbuhkan kembangkan oleh Allah berlipat ganda.
  4. Zakat merupakan sarana penghapus dosa, seperti yang pernah disabdakan Rasulullah Muhammad SAW.

[sunting] Faedah Khuluqiyah (Segi Akhlak)

  1. Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat.
  2. Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahmah (belas kasih) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya.
  3. Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik berupa harta maupun raga bagi kaum Muslimin akan melapangkan dada dan meluaskan jiwa. Sebab sudah pasti ia akan menjadi orang yang dicintai dan dihormati sesuai tingkat pengorbanannya.
  4. Di dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak.

[sunting] Faedah Ijtimaiyyah (Segi Sosial Kemasyarakatan)

  1. Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia.
  2. Memberikan dukungan kekuatan bagi kaum Muslimin dan mengangkat eksistensi mereka. Ini bisa dilihat dalam kelompok penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi sabilillah.
  3. Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosial, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.
  4. Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas berkahnya akan melimpah.
  5. Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang, karena ketika harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak pihak yang mengambil manfaat.

[sunting] Hikmah Zakat

Hikmah dari zakat antara lain:

  1. Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin.
  2. Pilar amal jama'i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan da'i yang berjuang dan berda'wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
  3. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
  4. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
  5. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
  6. Untuk pengembangan potensi ummat
  7. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
  8. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.

[sunting] Zakat dalam Al Qur'an

  • QS (2/Albaqarah:43) ("Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'".)
  • QS (9/At-Taubah:35) (Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.")
  • QS (6/Al-an'aam: 141) (Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan).

[sunting] Gerakan Zakat

[sunting] Indonesia

Gerakan zakat di Indonesia telah diberlakukan zakat sebagai komponen pengurang penghasilan sebelum dikenakan pajak dan pendirian Badan Amil Zakat Nasional [3] dan tumbuhnya lembaga-lembaga amil zakat sejak berdirinya Dompet Dhuafa pada tahun 1993 merupakan gerakan masyarakat walau sebelumnya sudah ada lebih dulu Badan Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (BAZIS) DKI yang dikelola Pemda DKI, atau YDSF surabaya yang berbasis masjid dan jamaah. Kelahiran lembaga-lembaga amil zakat profesional dan kiprahnya yang semakin masif di masyarakat selanjutnya mendorong lahirnya FOZ (forum zakat)yang merupakan asosiasi lembaga-lembaga zakat di Indonesia. Bangunan gerakan zakat semakin lengkap dengan lahirnya IMZ pada akhir tahun 2000 yang berfungsi mendorong kinerja lembaga dan melahirkan amil zakat profesional. Saat ini muncul nama-nama lembaga yang dikenal di masyarakat seperti Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat Indonesia, DPU Daarut tauhiid, YDSF, Al Azhar, dan lainnya. Paralel dengan gerakan mewujudkan terbentuknya Dewan Zakat Internasional yang akan mempelopori pembentukan Baitul Mal Internasional ini berawal melalui diselenggarakannya Konferensi Zakat Asia Tenggara di Kuala Lumpur tahun 2006 [4] yang didukung oleh lembaga-lembaga zakat dari 4 negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam mengeluarkan Deklarasi Zakat mengenai berdirinya Dewan Zakat MABIMS dengan Indonesia sebagai sekretariatnya kemudian disusul dengan Konferensi Zakat Internasional pertama tahun 2007 di Kuala Lumpur dan selanjutnya Konferensi Zakat Internasional kedua tahun 2008 yang diselenggarakan di Padang.

[sunting] Lainnya

[sunting] Catatan dan referensi

sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat#Etimologi

Read more...

Rabu, 09 Desember 2009

Renungan

Manusia dan jin diciptakan hanya semata-mata untuk beribadah kepada Allah sang pencipta.. Pemilik dan pengatur jagat raya ini, pahit manisnya hidup ini tergantung padaNya, pahitnya hidup yang kita rasakan jangan disesali, karena mungkin saja semua ini adalah ujian dari Allah, begitu juga sebaliknya, hidup senang..mewah..semua serba ada, jangan membuat diri kita angkuh, congkak, sombong, menganggap manusia yang lain tidak berarti dibandingkan dengan dirinya, berhati-hatilah siapa tau semua ini adalah cobaan dari Allah juga.

Satu hal yang harus kita sadari bahwa, manusia yang dianggap mulia disisi Allah adalah manusia yang bertaqwa, bukan manusia yang miskin atau kaya raya, bukan manusia yang gagah atau buruk rupa, bukan karena kulitnya hitam atau putih, untuk itu..wahai sobat-sobat blogger, marilah mulai dari sekarang, kita perbaiki diri kita, kita hormati sesama kita bukan karena harta bendanya, bukan karena kecantikannya/kegagahannya, bukan karena dia kulit putih ataupun hitam, bukan karena dia sama suku dengan kita, bukan karena dia kerabat kita dlluk

Kecendrungan yang terlihat sekarang, adalah munculnya kelompok-kelompok tertentu yang mengatas namakan inilah..itulah, yang secara langung maupun tidak langsung sudah memisahkan diri dengan kelompok lain, bersaing, berlomba dan bahkan berseteru dan akhirnya komplik dan perpecahanpun tidak bisa dihindari. Kelompok yang satu merasa diri paling baik..paling benar dan jujur, sementara kelompok yang lain adalah kelompok yang tidak benar dan tidak jujur.

Rasa senang..aman..nyaman..tentram..damai dan tenang adalah dambaan hidup setiap manusia, lalu kenapa kita harus saling bermusuhan..memperkaya diri sementara yang lain dibuat miskin, orang-orang miskin dijadikan komoditi empuk untuk meraih keuntungan. padahal sekaya-kayanya manusia, kalau hidup tidak tenang dan nyaman, emas dan mutiara, rumah mewah, mobil mewah dan isteri molek tidak akan berguna sama sekali.

Read more...

  ©Template by Dicas Blogger.

TOPO